Selasa, 19 Juni 2012

makalah sifilis


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum , yang merupakan penyakit kronis dan bersifat sistemik . selama perjalanan penyalit ini dapat menyerang seluruh organ tubuh. Angka sifilis di Amerika Serikat pada tahun 1999 merupakan rekor angka terendah yaitu 2, 3 kasus per 100. 000 orang dan centers for disease control and prevention ( COC) telah menciptakan national paln for syphilis elimination. Factor resiko yang berkaitan dengan sifilis antara lain adalah penyalahgunaan zat , terutama crack cocaine : pelacuran , tidak adanya perawatan antenatal prenatal , usia muda  status social ekonomi lemah dan banyak pasangan seksual.

1.2  Tujuan
Mahasiswi mampu menjelaskan dan menerangkan mengenai sifilis , antara lain :
·         Pengertian sifilis
·         Etiologi / penyebab sifilis
·         Epidemiologi
·         Patofisiologi / penularan sifilis
·         Pengobatan serta asuhan kebidannya
·         Komplikasi
·         Pencegahan

BAB II
ISI
2.1 PENGERTIAN
Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum , yang merupakan penyakit kronis dan bersifat sistemik . selama perjalanan penyalit ini dapat menyerang seluruh organ tubuh.
2.2 ETIOLOGI

Penyebab sifilis adalah treponema pallidium, yang ditularkan ketika hubungan seksual dengan cara kontak langsung dari luka yang mengandung treponema.
Treponema dapat melewati selaput lendir yang normal atau luka pada kulit. 10-90 hari sesudah treponema memasuki tubuh, terjadilah luka pada kulitprimer (chancre atau ulkus durum).

Chancre ini kelihatan selama 1-5 minggu dan kemudian sembuh secara spontan. Tes serologik untuk sifilis biasanya nonreaktif pada waktu mulai timbulnya chancre, tetapi kemudian menjadi reaktif sesudah 1-4 minggu. 2-6 minggu sesudah tampak luka primer, maka dengan penyebaran treponema pallidium diseluruh badan melalui jalan darah, timbulah erupsi kulit sebagai gejala sifilis sekunder.
Erupsi pada kulit dapat terjadi spontandalam waktu 2-6 minggu. Pada daerah anogenital ditemukan kondilomata lata. Tes serologik hampir seluruh positif selama fase sekunder ini, sesudah fase sekunder, dapat terjadi sifilis laten yang dapat berlangsung seumur hidup, atau dapat menjadi sifilis tersier. Pada sepertiga kasus yang tidak diobati, tampak manifestasi yang nyata dari sifilis tersier.

2. 3 GAMBARAN KLINIK

1.      Sifilis primer
Chancre atau ulkus durum kelihatan pada temmpat masuknya kuman, 10-90 hari setelah terjadinya infeksi. Chancre berupa papula atau ulkus dengan pinggir-pinggri yang meninggi, padat, dan tidak sakit. Luka tersebut paa alat genital biasanya terdapat vulva dan terutama pada labia, tetapi bisa juga pada serviks. Luka primer kadang-kadang terjadi pada selaput lendir atau kulit ditempat lain (hidung, dada, perineum, dan lain-lain), dan pemeriksaan medan gelap (dark-field) perlu dilakukan usaha untuk menemukan treponema pallidium disemua luka yang dicurigai. Tes serologik harus dibuat setiap minggu selama enam minggu.

2.      Sifilis sekunder
Gejala pada kulit timbul kira-kira 2 minggu – 6 bulan (rata-rata 6 minggu) setelah hilangnya luka primer. Kelainan yang khas pada kulit bersifat makulopapiler, folikuler, atau postuler. Karakteristik adalah alopesia rambut kepala yang tidak rata (month eaten) pada daerah oksipital. Alis mata dapat menghilang pada sepertiga bagian lateral. Papula yang basah dapat dilihat pada daerah anogenital dan pada mulut. Papula ini dekenal dengan nama kondilomata lata, dan mempunyai arti diagnostik untuk penyakit ini. Kondilomata lata agak meninggi, berbentuk budar, pinggirnya basah dan ditutup oleh eksudat yang berwarna kelabu. Treponema pallidium dapat dijumpai pada luka ini dan tes srologik biasanya positif. Limfadeno patia adalah tanda penting, kadang-kadang splenomegali dijumpai juga. Aspirasi dengan jarum dari kelenjer limfe yang bengkak pada biasanya menemukan cairan yang mengandung treponema pallidium yang dapat dilihat pada pemeriksaan lapangan gelap.

3.      Sifilis laten
Tidak mempunyai tanda-tanda atau gejala klinis. Tanda positif hanya serum yang reaktif, dan kadang-kadang cairan spinal juga reaktif. Jika fase laten berlangsung sampai 4 tahun, maka penyakit ini tidak menular lagi, kecuali pada janin yang dikandung wanita yang berpenyakit sifilis.

4.      Sifilis tersier
Kadang pada vulva ditemukan gumma. Disini ada kecendrungan bagi gumma untuk menjadi ulkus nekrosis dan indurasi pada pinggirnya.

5.      Sifilis dan kehamilan
Paling sedikit dua sepertiga dari wanita hamil dengan sifilis berumur 20-30 tahun. Efek sifilis pada kehamilan dan janin terutama tergantung pada lamanya infeksi terjadi, dan pada pengobatannya. Jika penderita diobati dengan baik, ia akan melahirkan bayi yang sehat. Jika ia tidak diobati, ia akan mengalami abortus, atau aborataus prematurus dengan meninggal atau dengan tanda-tanda kongenital.
Apabila infeksi dengan sifilis terjadi pada hamil tua, maka plasenta memberikan perlindungan terhadap janin dan bayi dapat dilahirkan sehat. Apabila infeksi terjadi sebelum plasenta terbentuk dan dilakukan pengobatan segera, infeksi pada janin mungkin dapat dicegah. Pada tiap pemeriksaan antenatal perlu dilakukan tes serologik terhadap sifilis.

2.4 PENGARUH SIFILIS
·         Terhadap kehamilan
1.      Infeksi pada janin terjadi setelah minggu ke-16 kehamilan, dimana Treponema telah dapat menembus barier plasenta.
2.      Akibatnya: kelahiran mati dan partus Prematurus.
3.      Bayi lahir dengan lues kongenital: Pemfigus sifilitus, dekskuamanasi telapak tangan-kaki serta kelainan mulut dan gigi.
4.      Bila ibu menderita baru 2 bulan terakhir tidak akan terjadi lues kongenital.

·         Terhadap janin dan neonatus
Dahulu, sifilis merupakan penyebab dari 1/3 kasus lahir mati. Sifilis sekarang memiliki peran yang kecil tetapi presisten dalam kematian janin. Spiroketa mudah menembus placenta dan dapat menyebabkan infeksi congenital karna adanya imuno- inkompetensi relative sebelum 18 minggu, janin biasanya tidak memperlihatklan gejala kllinis jika terinfeksi sebelum kurun ini. frekunsi sifilis congenital bervariasi sesuai stadim damn durasi infeksi pada ibu.. insidensi tertinggi adalah pada neonatus yang lahir dari ibu dengan sifilis dini ( primer, sekunder, atau laten dini insidensi terendak pada penyakit laten lanjut ) penting di ketahui bahwa stadim sifilis pada ibu dapat menyebabkan infeksi pada janin. Infeksi sifilis congenital di bagi menjadi stadium dini yang bermanisvestasi pada masa neonatus, dan penyakit stadim lanjut yang bermanivestasi pada remaja.
Anjuran terapi untuk wanita hamil dengan sifilis
                 
kategori
Terapi
-          sifilis dini



-          sifilis dengan durasi lebih dari 1 tahun
-          neoroafilis

Penicillin G benzatin, 2,4 juta unit intramuskulus sebagai suntikan tunggal, sebagian menganjurkan dosis kedua 1 minggu kemudian

Penicillin G benzatin, 2,4 juta unit intramuskulus setipa minggu untuk 3 dosis

Penicillin G kristal cair, 3-4 juta unit intravena setipa 4 jam selama 10-14 hari.

Penicillin prokain cair, 2,4 juta unit intramuskulus setiap hari, plus setiap hari, plus probenerid 500 mg peroral 4kali sehari, keduanya selama 10-14 hari.

     
Tindak  lanjut
Kontrak sesual dalam 3 bulan terakhir perlu di evaluasi untuk sifilis dan terapi secara presumtif.  Meskipun seronegative. Titer serologis ibu perlu di periksa setiap bulan dan saat persalinan untuk memastikan respons serologis terhadap terapi atau mengetahui reinfeksi pada kelompok beresiko tinggi ini. peningkatan titer 4 kali lipat atau lebih mengisyaratkan reinfeksi atau kegagalan pengobatan sebagai contoh, titer VDRL yang semula 1: 4 dan kemudian meningkat menjadi 1: 16 mengisyaratkan reinfeksi.
Siklus pada Kehamilan Dan Sifilis Kongenital
Pada masa belum dikenal antibiotika,seorang ibu dari bayi yang menderita sifilis kongenital akan memberi keterangan bahwa telah menjadi keguguran yang kemudian diikuti lahirnya bayi prematur meningggal waktu lahir dan selanjutnya lahir cukup umur meninggal waktu lahir dan kemudian lahir bayi yang sehat.
            Hal tersebut dapat dijelaskan adanya kemungkinan “ternonema” keluar secara berkala dari jaringan limfoid kedalam peredaran darah pada sifilis lanjut. Maka bila hal tersebut terjadi bayi dalam kandungan akan terinfeksi. Seorang wanita yang menderita sifilis dini, tidak nmendapat pengobatan 30% bayi akan meninggal dalam kandungan, 30% meninggal setalah lahir, terinfeksi tetapi masih hidup sekitar 40% yang disertai gejala-gejala sifilis lanjut.
Sifilis Kongenital Dini
            Pada sifilis kongenital dini tanda dan gejala yang khas muncul sebelum umur 2 tahun. Lebih awal munculnya manifestasi klinis,akan lebih jelek prognosisnya.
            Tanda-tanda tersebut adalah
1.      Lesi kulit terjadi segera setalah lahir, berupa lesi vesikobulosa yang akan berlanjut menjadi erosi yang tertutup kusta. Lesi kulit yang terjadi pada beberapa minggu kemudian berupa populoskuamosa dengan distribusa simetris.
2.      Lesi pada selaput lendir. Selaput lendir hidung, faring dapat terkena serta mengeluarkan sekresi. Sekresi hidung disertai darah pada bayi baru lahir merupakan tanda khas sifilis kulit dan selaput lendir dipenuhi “T.Pallidum”.
3.      Tulang. Terjadi osteokondritis tulang panjang.walaupun hanya sebagian ditemukan tanda klinis, hampir semua penderita menunjukkan kelainan radiologis.
4.      Anemia hemolitik
5.      Hepatosplenomegali
6.      Sistem syaraf pusat,dijumpai kelainan sumsum tulang belakang.

Sifilis Kongenotal Lanjut
            Tanda-tanda sifilis lanjut:
1.      Keratitis interstitialis
Biasanya terjadi pada umur pubertas dan bilateral.Pada kornea timbul pengaburan menyerupai gelas disertai vaskularisasi sklera.
2.      Gigi hutchinson
Kurangnya perkembangan gigi,maka insisor tengah menyerupai tong disertai takikdan lebih kecil dari nomal.
3.      Gigi mulberry
Pada molar pertama kelainan pertumbuhan pada bagian mahkota.
4.      Gangguan syaraf pusat VIII
Ketulian biasanya terjadi mendekati masa pubertas tetapi kadang-kadang terjadi pada setengah umur.
5.      Neurofilis
Menunjukkan kelainan seperti manifestasi sifilis yang didapat,peresis lebih sering terjadi dibandingkan pada orang dewasa.
6.      Tulang
Terjadi sklerosis sehingga tulang kering menyerupai pedang (sabre). Tulang frontal yang menonjol atau dapat terjadi kerusakan akibat gomma yang menyebabkan destruksi terutama pada septum nasi.
7.      Kulit
Timbul fisira disekitar rongga mulut dan hidung disertai ragado yang disebut sifilis rinitis infantil.
8.      Lesi kardiovaskuler
9.      Clutton’s joint
Stigmata Sifilis Kongenital
            Lesi sifilis kongenital dini dan lanjut dapat sembuh serta meninggalkan parut dan kelainan yang khas. Parut dan kelainan demikian merupakan stigmata sifilis kongenital.

1.      Stigmata Lesi Dini
·         Gambaran muka yang menunjukkan saddlenosa
·         Gigi menunjukkan gambar gigi insisor hutchinson dan gigi mullberry
·         Ragades
·         Atrofi dan kelainan akibat peradangan
·         Koroidoretinitis, membentuk daerah parut putih dikelilingi pigmentasi pada retina

2.      Stigmata dan Lesi Lanjut
·         Lesi pada kornea: kekabuaran kornea sebagai akibat ghort vessels.
·         Lesi tulang, sabre tibia, akibat osteoperiostitis
·         Atrofi optik tersendiri tanpa iridoplegia
·         Ketulian syaraf.

2.5 DIAGNOSIS

Untuk menegakkan diagnosis sifilis, diagnosis klinis harus dikonfirmasikan dengan pemeriksaan laboratorium berupa :
1.      Pemeriksaan lapangan gelap dengan bahan pemeriksaan dari bagian dalam lesi, untuk melihat adanya T. Pallidum
a.       Pemeriksaan lapangan gelap (dark field)
Ruam sifilis primer, dibersihkan dengan larutan Nacl fisiologis, serum diperoleh dari bagian dasar lesi dengan cara menekan lesi dan serum akan keluar. Diperiksa dengan mikroskop lapangan gelap menggunakan minyak imersi T. Pallidum berbentuk ramping, gerakan lambat dan angulasi
b.      Mikroskop fluoresensi
Bahan apusan dari lesi dioleskan pada gelas objek, difiksasi dengan aseton. Sediaan diberi antibiotic spesifik yang dilabel fluoresensi, kemudian diperiksa dengan mikroskop fluoresensi. Peneliti lain melaporkan bahwa pemeriksaan ini dapat member hasil non spesifik dan kurang dapat dipercaya dibandingkan pemeriksaan lapangan gelap.

2.      Penentuan antibody didalam serum
Pada waktu terjadi infeksi treponema, baik yang menyebabkan sifilis, frambusio atau pinta akan dihasilkan berbagai variasi antibody. Beberapa tes yang dikenal sehari-hari yang mendeteksi antibody non spesifik, akan tetapi dapat menunjukkan reaksi dengan IgM dan IgG adalah :
a.       Tes yang menentukan antibody nonspesifik
·         Tes wasserman
·         Tes khan
·         Tes VDRL (Veneral Diseases Research Laboratory)
·         Tes RPR (Rapid Plasma Reagin)
·         Tes automated regain
b.      Antibody  terhadap kelompok antigen  yaitu
·         Tes RPCF (reiter protein complement fixation)
c.       Yang menentukan antibody  spesifik yaitu
·         Tes TPI (Treponema Pallidum Immobilization)
·         Tes FTA – ABS (Fluorescent Treponema Absorbed)
·         Tes TPHA (Treponema Pallidum Haemagglutination Assay)
·         Tes ELisa (Enzyme Linked immune sorbent assay)









2.6 PENGOBATAN
1.      Wanita hamil dengan sifilis harus diobati sedini mungkin, sebaliknya sebelum hamil atau pada trimester I untuk mencegah penularan terhadap janin.
2.      Suami harus diperiksa dengan menggunakan tes ix Wasserman dan VDRL, bila perlu diobati.
3.      Terapi:
·         Suntikan Penisilin 6 secara intramuskular sebanyak 1 juta satuan perhari selama 8-10 hari.
·         Obat-obatan per oral Penisilin dan etromisin.
·         Lues kongenital padaneonatus : Penisilin 6.100.000 satuan per kg berat badn sekaligus.

Pemeriksaan penderita setelah pengobatan
·         Pemeriksa penderita sifilis harus dilakukan,bila terjadi infeksi ulang setelah pengobatan,setelah pemberian penisilin 6,maka setiap pasien harus diperiksa 3 bulan kemudian untuk penentuan hasil pengobatan.
·         Semua penderita sifilis kardivaskuler dan neorosirilis harus diamati bertahun-tahun,trmasuk klinisserologis,dan pemeriksaan CSTG dan bila perlu radiologis.
·         Pada semua tingkat sifilis,pengobatan ulang ulang diberikan bila:
o   a.tanda-tanda dan gejala klinis menunjukkan sifilis aktif yang perdsisten atau berulang
o   b.terjadi kenaikan titer tes nontreponemal lebih dari dua kalipengenceran ganda
o   c.pada mulanya tes neotreponemal dengan titer tinggi (>1/8) persisten bertahan
·         Harus dilakukan pemeriksaan CSTG setelah diberi pengobatan,kecuali ada infeksi ulang atau didonosis sifilis dini dapat ditegakkan.
·         Penderita harus diberi pengobatan ulang terhadap sifilis yang lebih dari 2 tahun.Pada hanya sekali pengobatan ulang dilakukan sebab pengobatan yang cukup pada penderita akan stabil dengan titel rendah.

Reaksi penisilin
            Dapat terjadi alergi atupun syok anapilatik sebagai reaksi terhadap penisilin.Dapat terjadi reaksi psudo.Alergi pada kulit yaitu reaksi jarish-herx heimier dan hoigine (gejala psikotit akut akibat prokain dalam penisilin).
Tanda-tanda JH (reaksi jerisch herxheimier)  ialah:
1.Terjadi kenaikan suhu tubuh yang disertai menngigil dan berkeringat
2.Lesi bertambah jelas,misalnya lesi sifilis lebih merah
3.perubahan fisiologis yang khas termasuk fisiokonttriksi dan hiperventilasi dan kenaikan tekanan darah dan output jantung













BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Sifilis disebabkan oleh spirokaeta Treponema pallidum setelah suatu periode inkubasi beberapa minggu. Insiden sifilis di Amerika Serikat meningkat dan menimbulkan akibat yang serius selama masa hamil.
Pemeriksaan serologi tidak spesifik yang digunaan untuk tujuan skrining, terdiri dari dua tipe, yakni komplemen dan flokulasi. Hasil pemeriksaan VDRL positif baru dapat dilihat pada hari ke-10 sampai ke-90 setelah infeksi.
Pemeriksaan spesifik adanya antigen treponema lebih mahal dan digunaan untuk diagnosis banding. Penisilin lebih dipilih untuk pengobatan sifilis. Pada individu yang alergi terhadap penisilin., pilihan lain mencakup tetrasiklin atau doksisiklin, eritromisin dan seftriakson. Tetrasiklin dikontraindikasikan pada kehamilan karena efek obat-obatan itu pada fungsi hati ibu dan pada perubahan warna gigi, seta penurunan pertumbuhan tulang pada janin.

B.     Saran
Dalam penulisan makalah ini, penulis banyak memiliki kekurangan dan diharapkan Bapak/Ibu Dosen serta yang membaca dapat memberikan masukan.






DAFTAR PUSTAKA
Leveno, Kenneth J. 2009. Obstetri Williams. EGC: Jakarta
Bobak. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. EGC: Jakarta
Fahmi, Sjaiful D. 2003. Penyakit Menular Seksual. FK UI: Jakarta
Mochtar, Rustam. 2000. Sinopsis Obstetri. EGC: Jakarta
Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. EGC: Jakarta
Winkjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar